1. The Political Notebook: (Pop) Cultural Imaging and Modeling Possibility: A Blog Post About Feminism, The West Wing and Not Being President →

    thepoliticalnotebook:

    In recent weeks I’ve been revisiting The West Wing, a show during whose early years I was fairly young and which has been embedded in my memory banks as a model of the progressive dream: brilliant people who earned their jobs and spend their time doing The Right Thing. In many ways, it’s as good…

  2. Jenderalmu kekonyolanmu


    Ketika para bangsat bercerita tentang kebaikan, disitu bahasa hantu dan jin akan sering terdengar seperti nyanyian malaikat

    Ketika kerancuan generasi kini tentang politik menjadi pragmatis dan menganggap politik itu hanya kekuasaan
    Mengganggap politik itu hanya presiden, anggota dewan dan partai politik

    Kerancuan-kerancuan yang tidak dicarikan hakikat berfikirnya, mana kala pemahaman keilmuan akademis seperti taklid oleh setumpuk teori-teori

    Para durjana malam masih bersemayan dalam pelupuk orang sumbing, bahasa yang tak kumengerti namun lebih bermartabat dari pada seorang durjana
    Dikira republik seperti barang-barang terpajang di etalase mal-mal mewah, padahal bangsa sudah berada di dalam keranjang sampah

    Sialnya lagi, hal-hal semacam ini baru terpikirkan 5-10 tahun mendatang, pada saat itu bangsa dan republik tinggal nama

    Membaca kitab hantu dalam perundang-undang semua keanehan menjadi lazim dan tawar

    Sesekali meringis dalam toples kaca, yang di kocok-kocok kemudian menjadi arisan para setan, seperti itu bangsa republik hari ini

    Siapa yang buat,
    Ohhhh tentu buka kita para dungu nan jumawa, mereka yang membawa bandrol pinjaman modal, institusionalis dengan seperangkat regulasi yang di olah didapur kita.

    Jaman apa ini? Peradaban macam apa sekarang itu? Ini yang kau sebut kesejahteraan?
    Ini kah yg kau sebut pemerataan
    dan ini pula kah yang selalu kau nyanyikan dalam kuping pertiwi arti bernegara?

    Tanyakan kepada para jenderal dan teknokrat mu itu, atau kau masihkah percaya dengan para rakyatmu?

    Dalam catatan


    Oz, 19 Mei 2012

  3. Justru

    Segala resah tercipta
    Mungkin saja cinta, kala arteri cintamu membanjiri seluruh sel tubuhku
    Mungkin saja cinta, kala detakan jantungmu dan jantungku disatu titik nada

    Tak peduli seberapa jauhnya,
    Aliran cinta berada dalam vena mengembalikan setia kebersamaan kita.


    Oz, 2012

  4. Nyanyian Malam

    Ada secarik daun meliuk-liuk disamping taman
    Bergoyangan jatuh kealas kehidupan
    Tertimbun air hujan sore tadi

    Aku brebaring diatas tumpukan kayu
    Kulihat mekar jamur tak jarang kuhirup spora dalam kalbu

    Mungkin saja purnama
    Kupahat di rembulan seribu durjana malam
    Atau ini semua bisikan para cicak
    Berusaha memetik bintang di langit atap

    Ohhh
    Malam masih panjang

    Kala durjana terus memanggali masa dalam rak-rak tempo hari

    Malam ini bisu kawan,
    Kaulah suara pungguk diatas tiang listrik depan rumahku
    Diantara ilalang-ilalang, kau bernyanyi bersam ajangkrik dan lipan kecil

    Dan disitu kulihat jiwaku

  5. a-slice-of-awesome:

Manuscript self portrait of Arthur Rimbaud (1854-1891), by Sergio Albiac - Portrait of the french poet using one of his manuscript poems. Generative calligraphic collage.

    a-slice-of-awesome:

    Manuscript self portrait of Arthur Rimbaud (1854-1891), by Sergio Albiac - Portrait of the french poet using one of his manuscript poems. Generative calligraphic collage.

  6. (Source: unabating)

  7. theeconomist:

An exhibition in Jeddah, a red Sea port city, demonstrates that Saudi artists and comedians are enjoying a thin breath of freedom.

    theeconomist:

    An exhibition in Jeddah, a red Sea port city, demonstrates that Saudi artists and comedians are enjoying a thin breath of freedom.

  8. bittersweetart:

    Nekranea

  9. Wherever you go, go with all your heart (WS)

    Heart like a mirror, always reflecting what we are perception. The perception that comes when we think of a thing about us and it’s. Meanwhile, the truth like a cracked mirror. Many perception, many reflection.


    There is no absolute truth,


    When we are in many options, choose the one with a vengeance and all your heart

  10. The Florida Debate: There Is No Spoon  →

    cognitivedissonance:

    This is an excellent recap of what it’s like to actually cover a debate on the campaign trail. Live-blogging is actually more entertaining. An excerpt:

    The majority of these news-filers were writing their stories then and there, listening to but not watching the debate, a kind of mood music they knew well. They were listening not for the recurring melody but for the cadenza, the counterpoint, the long silent measure. There were a few of these. When Mitt Romney joked that our immigration problem wasn’t “11 million grandmothers,” the journalists guffawed. When Rick Santorum said “Mitt Romney is a wealthy guy because he worked hard,” a few loud sighs escaped. But for the most part, the Muzak droned its smooth staccato-less tones. There is an idea of a Republican Party, and they have an idea of Florida. Their idea of Florida on this night was Cubans and NASA. Their idea of Florida was 1981.

  11. Who needs politics?

    The politic as an important element in every state and nation, because the country is the way of politics or the Constitution itself.

    It isn’t surprising that when someone says about the politics of the Republic was very impressed by his cool man.

    Politics is very simple to understand, politics not only to talk how much you memorize the political theories and how you are adept at convincing people, but also how to make the people of Republic prosperous because of its state.

    People don’t need politics, the people need is to get welfare and can eat from the sweat of their own.

    And then the question is “what happens if the state can’t provide basic needs such?

    For state affairs and politics should not we rely on the politicians who the only benefit and welfare of themself.

    “the state is too important to be taken care of by politicians alone”

  12. Hujan bulan Januari

    Ku salami hujan

    Salam yang begitu sejuk

    Menaburkan aroma lembab di segala jerjak dan fentilasi

     

    Rintiknya menari di atas permukaan wajah ini

    Mengabarkan cerita kemarin dalam fragmen kedepan

    Tak ada basa basi, lugasnya seakan merasuk kedalam hidung

     

    Kenapa kau datang terlalu lambat hari ini?

    Ya, aku sedang menjelajahi bumi mana yang akan ku kecup

    Dan aku menyirami apa saja yang aku sukai dan yang tidak aku sukai dengan kadar yang sama

     

    Sepenggal cerita dari hujan bulan Januari

    Tatkala langit jingga menerawang dan membasuh hujan dengan perlahan

     

     

     

     

                                                                                  Jakarta, 24 Januari 2011

                                                                                                                Ozye de Asr

     

                Mendapatkan masukan serta arahan dari mas Teguh Esha, Wapress, Bulungan, Jakarta Selatan pada 11 Februari 2011